Puisi: Pecah Dalam Keasingan

Pecah Dalam Keasingan

Setelah jadi korban, kita akan abadi pada koran
Orang-orang dan awan-awan jadi kepulan
Di langit-langit bintang berhamburan.

Setelah jadi bintang, kita abadi dalam arang
Saling bakar-membakar, jadi menjadi abu lalu tak satu
Di langit-langit bintang berhamburan
Usai diungguni api..
Dan menyatu pada keasingan

Puisi: Pecah Dalam Keasingan. Puisi keberagaman, puisi tentang Indonesia, Puisi toleransi, Puisi karya Muhardijuliansyah, Puisi dari Kalimantan Barat,
Loc: Pantai Kura-kura Singkawang, Kalbar by Isa Oktaviani

Indonesia-kah Kita

Mana ada merah di atas putih, mana ada putih di bawah merah
Jika kita masih saling menyinggung perihal paling benar, paling syurgawi, juga paling manusiawi.
Mana ada kau, mana ada aku, mana ada kita jikalau kita masih duduk dalam keasingan warung kopi
Kau dengan orang-orangmu, aku dengan orang-orangku, lalu kopi bersama sepi.
Mana ada bendera, tiang-temali jika kita berisik untuk mengusik
Lantas kedamaian seperti apa yang bisa kita hirup dalam bersama
Masihkah kau Indonesia?
Masihkah aku Indonesia?
Masihkahah kita Indonesia?
Jawabnya ada di ampas terakhir kopi kita
Pahit manis di atas kepala.


Kita

Kita dan beragam,yang satu menjadi kumpulan
Kita, makhluk-makhluk dengan sekumpul ucap, yang sepenuhnya belum searah tujuan.
Kita, belum tentu menjadi manusia seutuhnya

Kita.. kita, kita...

Itu, ini, apa, siapa kita?
Mungkin kita se-onggok debu di jalanan, rumah ibadah, taman-taman, serta lalu-lautan
yang dikumpulkan Tuhan perantara angin dan menjadi manusia.
Lantas, apa yang kita tuju?

Kita hanya debu.
Yang tak perlu memonopoli sesama debu agar terlihat kuat dalam suatu bangunan.



Puisi oleh: Muhardi Juliansyah, Anggota Komunitas Bela Indonesia chapter Kalimantan Barat

0 Komentar