Logat ke Logat, Tetap Bahasa Indonesia

Logat ke Logat, Tetap Bahasa Indonesia. Apa yang terlintas dalam benak kita ketika akan berkunjung ke suatu tempat yang belum pernah di datangi? Pertama kali saya menginjakkan kaki di Kalimantan Barat, saya merasa bahwa logat bahasa yang digunakan oleh masyarakat Pontianak begitu aneh. Misalnya pemakaian kata 'bile' yang berarti 'kapan', 'degel' yang bisa berarti 'gokil atau nakal' dan kata lainnya yang selalu diakhiri dengan kata 'e'. 'Mau ke mana' berubah menjadi 'nak kemane', 'Lagi apa berubah menjadi 'lagi ape' dan kalimat lainnya. Tidak hanya gaya bicara orang Pontianak yang didoninasi dengan akhiran ‘e’ tetapi orang Pontianak jarang sekali menyebut diri mereka dengan kata ganti 'aku atau saya' tetapi mereka  memanggil dirinya dengan nama mereka sendiri. 

 

Kesimpulan pertama saya adalah 'aneh'. Bahasa Indonesia dengan logat Melayu di Pontianak itu aneh. Kemudian saya menyadari kata 'aneh' lebih pas jika saya ganti menjadi 'asing'. Pemakaian logat dan bahasa Pontianak bagi saya sangat asing, bukan aneh. Karena seorang warga Pontianak datang ke Medan, mereka mungkin akan menganggap Bahasa Indonesia logat Medan juga aneh. 

Tahun-tahun berikutnya, sayapun berkesempatan mengunjungi beberapa kota di Jawa, seperti Yogyakarta dan Malang. Tentu logat Pontianak yang tadinya asing bagi saya, sekarang sudah menjadi logat saya juga. Seorang Batak yang menggunakan logat Melayu berbicara di tempat-tempat umum seperti mall dan rumah makan dianggap aneh oleh orang lain. Ketika saya dan teman-teman bicara dengan logat Pontianak di Pulau Jawa, dengan diam-diam orang lain terkikik mendengarkan kami. Dan setelah kami berlalu, mereka mengejek kami dengan sebutan 'Upin-Ipin'. Saya dan teman-teman disangka berasal dari Malaysia. 

Hal serupa tentu menjadi 'bahan tertawaan' jika ada teman kita dari Jawa tiba-tiba datang ke Pontianak dengan logat yang kita sebut medok. Logat mereka asing, karena bagi kita yang familiar adalah logat Melayu Pontianak. 

Cerita tentang logat ini tidak berhenti sampai di sini. Ketika saya mengujungi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, beberapa orang juga mencoba meniru-niru logat Batak dan menjadikannya sebagai bahan tertawaan. Mungkin dalam bahasa Stand up Comedi disebut 'punc line' pembicaraan, karena mereka mengenal saya sebagai orang Batak. Padahal kita tentu tahu sendiri iklan salah satu air mineral yang menampilkan seorang anak NTT berkata, "Sekarang sumber air su dekat." Kita pun menganggap itu lucu, tak jarang pula dijadikan bahan bercandaan.

Di provinsi manapun kita pergi, pasti setiap daerah memiliki logatnya masing-masing dan tak heran kita anggap itu asing dan orang lain juga beranggapan serupa tentang logat kita.  Hal ini karena adanya beberapa grammar yang berbeda dan peletakan Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan (SPOK) yang tidak sama di setiap grammar bahasa daerah yang kita gunakan. Sekarang saya menyadari bahwa kekayaan sesungguhnya justru terletak di sana. Bayangkan saja jika kita bepergian ke seberang pulau dan menemukan makanan yang sama, sifat manusia yang sama, logat bahasa yang sama. Rasanya pasti berbeda atau seperti tidak sedang bepergian,  mungkin seperti kita mengunjungi desa sebelah. 

Sekarang saya siap jika logat saya 'ditertawakan' di tempat lain. Jika memang hal-hal seperti ini bisa membuat orang lain bahagia, kenapa tidak? Mari pertahankan logat khas daerah sekaligus belajar bahasa daerah (bahasa ibu) agar budaya kita lestari sampai anak cucu kita ke depan. 

Oya, satu lagi. Sempatkan diri kita untuk bepergian ke daerah-daerah lain. Terutama bagi milenialis yang katanya menjunjung tinggi leisure time. Semoga cinta kita pada Indonesia bertumbuh setiap saat.

Ditulis oleh: Ningsih Sepniar Lumban Toruan, anggota Komunitas Bela Indonesia chapter Kalbar

0 Komentar