Memahami Pancasila Sebagai Center of Gravity

Memahami Pancasila Sebagai Centre of Gravity. Dalam penelusurannya tentang konsep Centre of Gravity (CoG), Haberkern (2004) menemukan bahwa konsep ini diperkenalkan pertama kali oleh Karl von Clausewitz dalam bukunya On War. Konsep ini kemudian banyak dirujuk dalam doktrin operasi militer untuk menakhlukkan musuh. Meski CoG bisa bersifat majemuk (centers of gravity) di mana satu dengan yang lain saling berkaitan, Clausewitz menyarankan untuk mencari muara dari pusat-pusat kekuatan itu. Muara inilah yang kemudian dimaknai sebagai CoG strategis, sementara yang lainnya dapat bersifat operasional dan taktis. Dalam perkembangannya, Guilio Douhet,  menambahkan elemen populasi/rakyat dan komponen psikologis dalam CoG. 

Memahami Pancasila Sebagai Center of Gravity, pancasila ideologi indonesia, yenti Andriany
Lokasi: Aruk, Kalimantan Barat (foto oleh : @honeylizious)
Rakyat dengan mental yang kokoh akan meneruskan perlawanan sekalipun di dalam situasi ketiadaan peralatan militer yang sebanding karena telah dihancurkan lawan. Menekankan pada pendekatan efek daripada pendekatan kapabilitas, Antulio Echevarria menjabarkan posisi CoG sebagai pusat kekuatan sekaligus titik rawan atau kelemahan dari suatu entitas negara-bangsa. CoG menjadi pusat energi dari  sejumlah titik berangkat berbagai kekuatan dan pergerakan yang konvergensinya menciptakan struktur, secara fisik maupun non fisik, yang membangun konektivitas dan kesatuan suatu entitas (negara-bangsa). Struktur yang terbentuk bukanlah CoG, melainkan penopangnya. Melemahkan struktur akan dapat mengeroposi CoG, namun menggoncangCoG secara langsung akan menyebabkan lawan kehilangan keseimbangan dan menyebabkan seluruh strukturnya hancur. 

Dalam konteks inilah ideologi dapat ditelusuri sebagai CoG dari organisasi ataupun negara. Menurut Sastrapratedja ideologi adalah “seperangkat gagasan atau pemikiran yang berorientasi pada tindakan yang diorganisir menjadi suatu [sistem] yang teratur” (Putranto, 2017a). Dalam pemaknaan ini, secara intrinsik ideologi memuat pemahaman pada kenyataan, khususnya mengenali diri, lingkungan dan kehidupannya. Dalam ideologi juga termuat nilai-nilai atau ukuran-ukuran moral yang menjadi acuan dalam mengenali citra diri, lingkungan dan kehidupannya. Pada ideologi juga ditemukan rumusan orientasi pada tindakan menuju masa depan. Dengan pemaknaan ini maka sebuah ideologi bagi sebuah negara berfungsi sebagai (a) sarana pemersatu bangsa; (b) filter penyaring ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan pandangan hidup bangsa; dan (c) cermin acuan pengukuran nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam perjalanan peradaban dunia, sejarah berulang kali membuktikan bagaimana ideologi dapat menjadi sumber kekuatan. Misalnya saja dalam konteks kebangkitan fasisme Jerman setelah Perang Dunia I. Berbalur dengan kebencian berbasis ras, ideologi Nazisme berkembang subur dan menjadi cara memobilisasi massa untuk turut dalam Perang Dunia II. Untuk menaklukkannya, kemampuan strategis diperlukan, bukan saja untuk menghancurkan kekuatan perang Jerman tetapi juga mencerabut ide nazisme hingga ke akarnya. Namun upaya mencerabut ideologi sangatlah sulit. 

Di tengah dampak globalisasi yang menghadirkan arus migrasi tenaga kerja asing dan pengungsian, neo-nazisme bangkit sebagai respon atas rasa ketersingkiran warga kulit putih Jerman dalam proses pembangunan dan penikmatan kesejahteraan di negaranya. Hal serupa tampak di Amerika Serikat (AS), yang ditunjukkan dengan kemenangan Donald Trump dalam pemilu 2016 yang menghembuskan kembali ideologi supremasi kulit putih. Bagi banyak warganya, kebangkitan ideologi supremasi kulit putih ini dianggap sebagai terorisme domestik yang mengancam kelangsungan hidup negaranya, sebagaimana tampak dalam insiden berdarah di Charlottesvile (12/07/2017). 

Dalam peradaban Indonesia, Ideologi Pancasila dalam perjalanan sejarah telah membuktikan ketangguhannya sebagai Center of Gravity, yang saat bersamaan akan terus berhadapan dengan tantangan. Pancasila merupakan falsafah, pandangan hidup bangsa Indonesia yang memuat kristalisasi nilai-nilai luhur yang diusung oleh masyarakatnya (Putrantro, 2017b). 

Di masa awal kemerdekaan, Pancasila hadir sebagai sumber pemersatu bangsa. Perumusan Pancasila yang melalui proses musyawarah untuk mencapai mufakat mampu menyikapi kerentanan disintegrasi wilayah dan rakyat Indonesia. Sebagai kekuatan pemersatu dan falsafah dasar, Pancasila sebagai CoG juga telah membuktikan kemampuannya untuk unggul dari berbagai gangguan dan ancaman dari ideologi lain (Widjojo, 2017). 

Penyelenggaraan pemerintahan di era demokrasi liberal (1945-1959) dan demokrasi terpimpin (1959-1966) sangat diwarnai pertarungan ideologi dunia masa Perang Dingin (Liberalisme vs. Komunisme) dan juga pergolakan internal berkaitan dengan soal relasi negara dan agama (gerakan Negara Islam). Komitmen pemimpin bangsa dan rakyat untuk berpegang teguh pada Pancasila memungkinkan Indonesia bukan saja sekedar bertahan di tengah pertarungan ideologi itu, melainkan juga menghadirkan kepemimpinannya di kancah dunia, a.l. melalui gagasan Gerakan Non Blok. 

Hingga akhir Perang Dingin, komitmen ini berlanjut. Upaya  internalisasi Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah bangsa mengalami puncaknya oleh pemerintahan di Era orde Baru (1966-1998) dimana Pancasila menjadi asas tunggal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada era ini, Indonesia mengalami kemajuan pembangunan di berbagai bidang dan juga meneguhkan kepemimpinannya di kancah global, disegani di kawasan Asia Tenggara melalui ASEAN dan di tengah komunitas muslim melalui Organisasi Konferensi Islam. 

Sentralisasi kekuasaan yang hampir tanpa batas dan korupsi yang semakin merajalela mengeroposi dan akhirnya menyebabkan Orde Baru runtuh. Masa transisi demokrasi bergulir dalam Era Reformasi dimana penataan ulang kelembagaan negara dengan desentralisasi, penguatan demokrasi, dan peneguhan hak asasi manusia menjadi bagian dari karakter khasnya. Namun, era ini juga  ditandai dengan berbagai konflik antar kelompok masyarakat yang menyebar dan berulang di berbagai wilayah. 

Desentralisasi yang tidak diikuti dengan mekanisme pengawasan yang memumpuni bergandengan dengan praktik politik transaksional telah secara nyata menimbulkan goncangan pada pemahaman mengenai wawasan nusantara karena mengarah pada federalisme. Pertumbuhan ekonomi tidak diikuti dengan perbaikan kesenjangan ekonomi yang diperlihatkan dengan kenaikan koefisiensi ini menjadi 0.40 pada tahun 2016 dari 0.35 pada tahun 2007. 

Situasi ini sebangun dengan hasil penelitian Organisasi Pangan Dunia (FAO, 2016) yang menunjukkan bahwa meski jumlah persentase penduduk Indonesia yang kelaparan turun dari 19,7% di 1990-1992 menjadi hanya 7,9% di 2014-2016, masih ada sekitar 19,4 juta penduduk Indonesia, terutama di kawasan Indonesia, yang mengalami kelaparan akibat kemiskinan dan kelangkaan bahan makanan pokok. Indonesia juga menghadapi ancaman neoliberalisme (Syahnarki, 2017) yang berkait dengan kepentingan banyak pihak atas kekayaan sumber daya alam dan kondisi demografi Indonesia.

Aplikasi neoliberalisme ini tampak pada tata kelola SKA yang menyebabkan negara kehilangan kendali pada pemanfaatannya dan kedodoran dalam membangun ketahanan pembangunan yang berkelanjutan. Akibatnya, ketergantungan Indonesia terus meningkat pada impor, termasuk di sektor pangan dan energi. Tanpaperubahanpolaproduksi, misalnya, 60% daripemenuhankebutuhan konsumsi energi minyak dan gas (migas) Indonesia pada tahun 2025 akan bergantung pada impor (Soesilo, 2017). 

Ancaman ideologi lainnya adalah radikalisme agama yang ditunjukkan dengan persebaran dan pertumbuhan sikap dan tindak intoleransi berbasis agama (Wingarta, 2017). Pada transisi ini juga berbenturan dengan deras arus globalisasi yang dipercepat oleh perkembangan tekhnologi informasi dan komunikasi yang memudarkan batas-batas kedaulatan nasional. Di tengah kegamangan di masa transisi, publik Indonesia berpotensi besar tergoda berpaling dari ideologi Pancasila karena jengah pada ketimpangan kesejahteraan, penegakan hukum yang lemah dan korupsi yang terus berurat akar. 

Hasil pengukuran indeks ketahanan nasional oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas, 2016) menunjukkan kerapuhan ketahanan di gatra ideologi meskipun secara umum terdapat peningkatan ketahanan nasional dalam tujuh tahun terakhir. Pada tahun 2016, agregat ketahanan nasional adalah 2.60 atau naik 0.17 dari indeks di tahun 2010. Namun, pada gatra ideologi, terjadi penurunan signifikan sebesar 0.25, dari nilai 2.31 di tahun 2010 menjadi 2.06 di tahun 2016. Penurunan ini ditengarai berelasi dengan ketahanan di gatra politik dan ekonomi, yang juga menunjukkan situasi serupa. 

Pada kondisi inilah pemantapan integrasi Pancasila dalam strategi dan pembangunan nasional di setiap sektor dan tingkatan menjadi sangat genting dan mendesak. Langkah ini memungkinkan Indonesia mampu membangun kekuatan untuk mengangkat eksistensi Bangsa Indonesia. Dengan menjadikan Pancasila sebagai nilai-nilai yang hidup, yang dapat menjadi andalan dalam mencapai tujuan nasional maka pada saat bersamaan kita meneguhkan peran dan posisi Pancasila sebagai Center of Gavity dari pergerakan bangsa Indonesia. 

Ditulis oleh: Andy Yentriyani dari Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) sekaligus pembina KBI Kalimantan Barat.

Daftar Pustaka 

Buku, laporan, prasaran dan materi lainnya

Haberkern, J.I., The Global War onTerrorism: Ideology as ItsStrategic Center ofGravity, Pensylvana: US Army College, 2004

Indonesia, Voluntary National Review, “EradicatingPovertyandPromotingProsperity in A Changing World, New York: HLPF, 2017

Lemhannas, 2017, TOR Essai PPSA XXI tahun 2017 Bidang Studi Strategi, didistribusikan di Lemhannas, Jakarta, Juli 2017

Putranto, A.D., et. al.MPBS Ideologi, Jakarta: Lemhannas RI, 2017

Putranto, A. Dwi., et.al. BABS Pancasila dan UUD NRI 1945, Jakarta: Lemhannas RI, 2017

Rudiyanto, Arifin. Ketahanan Nasional Dalam Era Global. Prasaran dalam Pembekalan Peserta PPSA XXI, Jakarta, 1 Agustus 2017.

Soemindiharso, Sismenas dalam Strategi Pembangunan Nasional, Prasaran dalam Pembekalan Peserta PPSA XXI, Jakarta, 8 Agustus 2017.

Syahnarki, Kiki. Kebangsaan Indonesia, Ancaman dan Penguatannya. . Prasaran dalam Pembekalan Peserta PPSA XXI, Jakarta, 4 Agustus 2017.

Widjojo, Agus., Ketahanan Ideologi Pancasila di Tengah Dinamika Ideologi Global. Prasaran dalam Pembekalan Peserta PPSA XXI, Jakarta, 24 Juli 2017.

Wingarta, I.P.S., Penguatan Rasa nasionalisme Menghadapi Maraknya Intoleransi Guna Menjaga Persatuandan Kesatuan Bangsa. Prasaran dalam Pembekalan Peserta PPSA XXI, Jakarta, 4 Agustus 2017.

0 Komentar