Pemilu di Tengah Pubertas Teknologi

Pemilu di Tengah Pubertas Teknologi. Masyarakat Indonesia sebentar lagi akan dihadapkan dengan puncak kontestasi besar politik 5 tahunan, yaitu Pemilu 2019. Tentu saja sebagai puncak kegiatan demokrasi yang paling meriah, partisipasi masyarakat dalam pemilu terkadang menjadi tolak ukur yang lebih umum dalam mendeskripsikan tingkat partisipasi masyarakat dalam politik. Di tengah-tengah hiruk pikuk pemilu saat ini, teknologi mengambil peran yang sangat masif sebagai alat kampanye baik dari para elit politik maupun dari para pendukungnya.
Teknologi mengambil porsi paling besar dalam semua aspek kehidupan kita, termasuk dalam pemilu. Yaitu internet dengan turunannya media sosial.

Media sosial saat ini seakan-akan sudah menjadi dunia kedua kita setelah dunia nyata dalam berinteraksi satu sama lain. Semua orang dapat terhubung dari satu tempat ke tempat lain tanpa dibatasi  ruang dan waktu.

Pemilu di Tengah Pubertas Teknologi
(https://www.cathedral.lancs.sch.uk/images/Y6/VOTE.jpg)
Tentu saja setiap perkembangan teknologi akan memberikan dampak positif dan negatif, tergantung bagaimana seseorang menggunakannya. Akhir-akhir ini tentu bukanlah rahasia umum lagi jika kita melihat keributan di media sosial mengenai politik, terutama topik pemilihan presiden (pilpres). Kondisi memanas ini sudah cukup lama timbul dan semakin hari semakin “panas”, dan kemungkinan akan terus terjadi sampai pemilu 2019 selesai. Tidak perlu kita membantah, bahwa kita sama-sama merasakan banyaknya gesekan yang terjadi didalam pemilu kita, ketegangan politik yang membuat terciptanya jarak dalam masyarakat akibat terkotak-kotak oleh pilihan politik. Tak ayal, dunia virtual dapat disebut dunia dimana semua orang dapat mengungkapkan pendapat secara bebas dan kadang tidak bertanggung jawab dengan bersembunyi di balik akun anonim.

Baru-baru ini terjadi kehebohan adanya trending topic di Twitter untuk meng-uninstall sebuah aplikasi jual-beli (market place) dikarenakan pemilik aplikasi tersebut membuat cuitan yang dinilai tidak valid & menyenggol kepentingan politik. Sebelumnya hal ini juga pernah terjadi pada sebuah akun penyedia jasa tour and travel yang juga menimbulkan trending topic di Twitter. Semua itu terjadi hanya karena perbedaan pandangan politik.

Saat ini banyak orang tidak segan-segan untuk menunjukkan sikap politiknya yang “terlalu berlebihan”. Media sosial sangat gampang dan cepat untuk menghubungkan setiap orang, mengumpulkan orang-orang berdasarkan minat dan pandangan politik. Akibatnya kerap disuguhi  berita-berita menyesatkan.

Adanya pemilu di tengah pubertas teknologi saat ini membuat kita hampir lupa dengan jati diri kita di dunia nyata. Perkembangan teknologi yang masif dan segala kemudahan yang terjadi ternyata masih belum bisa membuat kita menjadi lebih bijaksana dalam penggunaannya. Hoaks, ujaran kebencian, ajakan boikot, buzzer, merupakan produk dari penggunaan media sosial yang tidak bijaksana. Masyarakat awam yang baru mengenal media sosial merupakan kelompok yang rentan dengan ancaman-ancaman tersebut, alhasil kita rentan bersikap over-reaktif dan terprovokasi oleh isu-isu yang menyesatkan dan tidak menguntungkan kita secara personal.

Pemilu merupakan agenda yang penting bagi Indonesia, tantangan yang terjadi saat ini adalah pesatnya perkembangan teknologi yang masih belum diimbangi dengan masyarakat yang teredukasi dalam bersikap di dunia virtual. Perlu adanya kesadaran serta partisipasi aktif bagi kita semua dalam mengkampanyekan pemilu positif baik di dunia nyata maupun dunia virtual. Karena sejatinya berita-berita menyesatkan yang berseliweran di internet dapat menjadi bumerang bagi kita pribadi.

Sebuah pembodohan dan membuat kita saling curiga satu sama lain. Padahal ajang politik bukanlah sebuah panggung abadi, kepentingan akan terus berubah, semuanya dinamis. Tetapi, persatuan dan kesatuan kita adalah harga mati yang tidak dapat ditukar dengan nominal apapun. Semoga di ajang pemilu berikutnya, kita dapat sama-sama membangun aktivitas politik virtual maupun nyata secara sehat dan dapat mencerdaskan bangsa. 

0 Komentar