Serangan Apatisme Terhadap Pancasila

Serangan Apatisme terhadap Pancasila. Kehadiran setiap negara selalu beriringan dengan sebuah ideologi yang dirancang oleh Founding Father negara atau falsafah yang sudah tertanam begitu jauh secara komprehensif, berbagai ideologi antaranya Komunisme, Liberalisme, Sosialisme, Konservatisme, Nazisme dan lain-lain, ideologi tersebut dibangun dan dipertahankan sebagai bentuk acuan bertata negara. Ideologi berarti sekumpulan ide mendasar, gagasan, keyakinan, dan kepercayaan menyeluruh dan mendalam untuk mengatur tingkah laku bersama dalam kehidupan.
Serangan Apatisme Terhadap Pancasila

Kehadiran ideologi yang beragam di berbagai negara mengaharuskan Founding Father Indonesia berpikir keras untuk merancang sebuah acuan yang jelas, kuat, dan mendasar, rancangan tersebut mempertimbangkan keadaan negara ini yang kompleks akan berbagai perbedaan budaya, suku, agama, dogma, ras, warna kulit, dan bahasa. Karena itu hadir sebuah falsafah yang dibangun dengan keringat darah dan pemikiran yang mendalam. Ideologi tersebut dinamakan Pancasila dengan motto “Bhineka Tunggal Ika”.

Pancasila telah hadir selama 73 tahun mengiringi peradaban Indonesia, namun kehadiranya mulai terdegradasi dengan berbagai pemahaman dan serangan ideologi luar, dengan kekuatan big power yang berupaya mengubah pemahaman terhadap mindset dan jati diri bangsa Indonesia, melalui ideologi asing yang beraliran matrealisme, yaitu pemahaman yang berorientasi terhadap materi sebagai subtansi dasar kehidupan. Selain itu penanaman terhadap pemahaman (aliran) radikalisme, ekstrimisme, intoleransi, individualisme,terorisme dan sebagainya juga terjadi.

Ada banyak teori dan penjelasan mengenai mengapa hal tersebut dapat terjadi, kita dapat mengkajinya dengan mengklasifikasi sebagai berikut:  kekurangan terhadap hak dan kewajiban yang diterima setiap individu rakyat Indonesia. Seperti  hak akan kebebasan beragama, hak akan memproleh pendidikan layak, hak akan kesejahteraan, hak asasi moral, hak akan pelayanan kesehatan. Pada realitanya semua  itu belum terpenuhi secara maksimal, berbagai permasalahan belum bisa diatasi oleh pemangku amanat sehingga banyak ketidakpercayaan yang luntur terhadap pemerintahan, hukum bahkan terhadap Pancasila sebagai ideologi.

Permasalahan kompleks tersebut dapat dilihat, misalnya dari aspek kebebasan akan beragama. Dengan kasus permasalahan pendirian Mesjid, Mushola, Gereja dan tempat peribadatan di berbagai wilayah Indonesia. Terorisme, Radikalisme, dari segi hak akan hukum, tertanam pikiran menyatakan bahwa hukum selalu tumpul ke bawah dan  tajam di atas.

Dari segi hak moral dengan banyaknya perlakuan body shaming, ujaran kebencian dan pelecahan seksual. Hak di bidang pendidikan, biaya pendidikan yang terlau mahal, kualitas pendidikan dan tenaga pengajar yang tidak sesuai dan berbagai permasalahn lainnya. Tentu dengan adanya berbagai kekurangan, hak tersebut membuat kepercayaan terhadap Pancasila akan menurun dan menyebabkan orang  tidak peduli atau apatis terhadap nilai Pancasila.

Kepercayaan terhadap Pancasila harus tetap dijaga, peran terbesar dapat dilakukan oleh pemangku tanggungjawab yaitu Pemerintah, (Denyy Ja: 109-114), menjelasakan negara harus menghormati (to respect), melindungi (to protect), memenuhi (to fulfill), dan dijelaskan juga dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 28 butir 4 ditegaskan bahwa “Perlindungan, pemajuan,penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.” Konstitusi ini secara jelas memperlihatkan bahwa negara sebagai pemangku tanggung jawab namun terlepas dari itu seluruh lapisan masyarakat harus tetap mempercayai dan menjaga nilai luhur Pancasila dengan menghargai keberagaman, menghormati upaya pemerintah dalam memajukan negara, dimana minoritas dapat bersatu dengan mayoritas tanpa perlu menyakiti dan tercapailah damai dan sejahtera.

Ditulis Oleh Liansyah, Anggota Komunitas Bela Indonesia Chapter Kalbar 

0 Komentar